Bahagia Yang Hakiki

Bahagia-Yang-Hakiki

Bagaimana Bahagia Yang Hakiki? 

Setiap orang ingin bahagia dan berusaha agar mendapatkan kebahagiaan dengan bermacam-macam cara, sesuai dengan persepsi dan kemampuan mereka masing-masing. Setiap orang memiliki persepsi (pandangan) yang berbeda tentang definisi kebahagiaan. Ada yang memandang berdasarkan banyaknya harta, jabatan yang tinggi, mobil mewah, tabungan yang banyak dan lain sebagainya. Bahkan ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan 3 ta (harta, tahta, wanita) sehingga terjadilah ketidakseimbangan dalam kehidupan mereka.

Ada juga yang memandang bahwa bahagia di dunia hanya sementara, dan berusaha menanam amal kebaikan untuk bekal di akhirat. Harta, jabatan, dan
segala kemuliaan kehidupan bukanlah tujuan, tetapi menjadi sarana
untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Jika ditanya, apa yang dimaksud dengan bahagia? Maka kita akan
memberikan jawaban tentang makna bahagia itu berdasarkan kebutuhan/
tujuan jangka pendek masing-masing. Orang yang miskin berpendapat
bahwa bahagia adalah apabila mereka menjadi orang kaya sehingga
bisa mendapatkan segala yang diinginkannya. Orang yang sakit kronis
berpendapat bahwa bahagia adalah ketika ia sembuh dari sakit kronis
yang dideritanya. Ia akan menggunakan hartanya agar bisa sembuh,
tidak peduli berapapun harta yang harus dikeluarkan. Seorang pejabat
berpendapat bahwa bahagia adalah jika memiliki jabatan yang tinggi. Masih banyak lagi pendapat tentang bahagia, berdasarkan kebutuhan / tujuan jangka pendek masing-masing, yang kalau dipelajari secara mendalam hal tersebut hanyalah bahagia yang bersifat sementara.

Dalam bahasa Indonesia, bahagia adalah kata sifat, yang bisa diketahui
oleh rasa hati, sehingga untuk mengetahui apa hakikat bahagia tersebut
kita harus merasakan apa yang disebut rasa bahagia. Jadi, bahagia
merupakan dimensi rasa perasaan. Berdasarkan hukum kausalitas rasa
bahagia merupakan akibat dari suatu sebab.

Contoh: Orang yang lapar, lalu makan makanan yang lezat, maka akan menimbulkan rasa bahagia pada orang tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa perasaan bahagia
akan timbul apabila kebutuhan atau keinginan seseorang terpenuhi.
Karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda macamnya, bertingkat-tingkat,
maka rasa bahagia sebagai akibat terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan
tersebut, juga bermacam-macam dan bertingkat-tingkat.

Tingkatan kebutuhan manusia pada hakikatnya mengikuti tingkatan akal
atau derajat akalnya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw:
Suatu hari Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah
dengan apakah kelebihan sebagian manusia dari manusia lainnya?
Rasulullah menjawab “Dengan akal!”. Dan di akhirat? Dengan akal juga
kata beliau! bukankah seorang manusia lebih banyak mendapat pahala
karena amal ibadahnya? kata Aisyah pula. “Hai Aisyah, bukankah amal
ibadah yang mereka kerjakan itu hanya menurut kadar akalnya? Sekadar
ketinggian akalnya, sebegitulah ibadah mereka dan menurut amal
itu pula pahala yang diberikan kepada mereka.

Kemudian Rasulullah bersabda: “Allah membagi akal dengan tiga bagian siapa yang cukup
mempunyai ketiga bagiannya, sempurnalah akalnya, kalau kekurangan
walau sebagian, tidaklah ia termasuk orang yang berakal”. Ya Rasulullah
manakah bagian yang tiga macam itu?. Kata beliau: “pertama baik
ma’rifatnya kepada Allah, Kedua baik taatnya kepada Allah dan ketiga
baik pula sabarnya atas ketentuan Allah”. (HR Bukhari)

Tingkat tertinggi dari akal adalah akal yang telah mengenal Allah,
sehingga Imam Ghazali mengatakan: “Bahagia dan kelezatan yang sejati
adalah apabila dapat bertemu Allah dan mengingat Allah. Ketahuilah
bahwa kebahagiaan tiap-tiap sesuatu adalah bila kita merasakan nikmat
kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu sesuai dengan sifat
kejadian masing-masing, maka kelezatan mata adalah melihat rupa
yang indah, kenikmatan telinga adalah mendengar suara yang merdu,
demikian pula anggota badan yang lain ditubuh manusia. Adapun
kebahagiaan rohani adalah ma’rifat kepada Allah, karena rohani itu
dijadikan untuk menemui Allah kemudian mengingat-Nya. Rohani yang
dulu mengenal Allah, kemudian ia dapat kesempatan untuk mengenal
Allah, maka ia sangat bergembira dan tidak sabar untuk terus bertemu
dengan Allah, karena kelezatan mata rohani memandang Dzat Yang
Maha Indah, karena Allah memang Maha Indah.

Oleh karena itu, tidak ada bahagia yang hakiki yang lebih lezat dari
pada Marifatullah (Mengenal Allah dan taat kepadaNYA), tidak ada suatu pandangan yang lebih indah dari pada memandang Allah.

Firman Allah surah Al Qiyamah 22 – 23 : “Wajah-wajah
(orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah
mereka melihat.”

Sebab segala kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, kelezatan
dan suka cita di dunia, sebagian besar berdasarkan perasaan nafsu, dan
timbul karena ada nafsu. Semuanya akan berhenti pada batasnya yaitu
kematian. Tetapi bahagia karena ma’rifatullah berdasarkan perasaan
ruh. Ruh tidak akan mati karena dikekalkan oleh Allah. Bila tubuh kasar
ini mati, maka bertambah bersihlah ruh itu, karena tidak ada lagi yang
menggoda, sebab kekuatan iblis dan hawa nafsu tidak sampai ke alam
akhirat. Ruh keluar dari alam yang sempit menuju ke alam yang sangat
luas, keluar dari gelap menuju cahaya.

Orang yang telah menemukan bahagia yang hakiki berupa
ma’rifatullah adalah orang yang sudah mencapai Kemenangan yang
Nyata (Fathul Mubin) dalam hidupnya, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang
nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu
yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-
Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya
Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”. (Al Fath:
1- 3)

Oleh karena itu, kita harus bersabar dan terus belajar agar dapat
mengenal Allah serta bersabar untuk melaksanakan ketaatan kepada
Allah agar bahagia di dunia dan akhirat. “Maka bersabarlah kamu untuk
(melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang
yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al Insan : 24)
“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barang
siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan
kepada Tuhannya”. (Al Insan : 29)

*****************************THE END**************************

 Doa Kebaikan Dunia – Akhirat

(Sumber http://www.voa-islam.com/)
 

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

RABBANAA AATINAA FID DUN-YA HASANAH, WAFIL-AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah: 201)

 

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

ALLAAHUMMA RABBANAA AATINAA FID DUN-YA HASANAH, WAFIL-AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Manfaat doa ini sangat luar biasa. Kandungannya mencakup kebaikan yang diinginkan setiap insan sejak di dunia hingga akhirat. Kebaikan di dunia mencakup setiap yang diinginkan dari masalah dunia berupa kesehatan, tempat tinggal yang luas, rizki yang banyak dan halal, istri shalihah, anak shalih, ilmu bermanfaat, amal shalih, ibadah khusu’, kendaraan yang nyaman, nama baik dan lainnya.

Sedangkan kebaikan di akhirat yang tertinggi adalah masuk surga dan mendapat ridla Allah serta kenikmatan-kenikmatan yang mengirinya berupa rasa aman dari huru-hara yang mengerikan di padang mahsyar, diringankan hisab dan lainnya. Maknanya juga meminta agar diselamatkan dari siksa-siksa dan penderitaan yang ada di kubur, padang mahsyar, dan di neraka.

Sedangkan maksud diselamatkan atau dipelihara dari siksa neraka adalah dimudahkan untuk menjauhi jalan yang menghantarkan ke neraka berupa menjauhi maksiat dan dosa serta meninggalkan perkara syubuhat dan haram.

Qasim bin Abdurrahman berkata, “siapa yang diberi kalbu yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, dan jasad yang sabar dan tangguh, maka dia telah diberi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta di pelihara dari siksa neraka.

Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berdoa dengannya dan sangat menganjurkan umatnya untuk membaca doa ini. Dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhumengatakan, “doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah;

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Anas bin Malik biasa berdoa dengan doa ini saja dan ketika melantunkan beberapa doa pasti beliau memasukkan doa ini di dalamnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Abu Nu’aim, Abdussalam bin Syadad –yakni Abu Thaluth- berkata, aku pernah bersama Anas, lalu Tsabit berkata kepadanya, “sesungguhnya saudara-saudaramu meminta agar engkau mendoakan mereka. Lalu Anas berdoa, “Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Merasa kurang, mereka meminta agar didoakan lagi ketika mereka akan beranjak pergi, lalu Anas berkata, “jika Allah sudah memberikan untuk kalian kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta memelihara kalian dari siksa nereka, berarti Dia telah memberikan untuk kalian seluruh kebaikan.

Al Qadli Iyadh rahimahullah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berdoa dengan ayat ini (Al Baqarah: 201) karena mengandung seluruh isi doa dari urusan dunia dan akhirat.” Semoga kita mendapatkan Bahagia Yang Hakiki. Baca artikel-artikel yang membantu Anda lebih bahagia, lihat Daftar Artikel Hipnoterapi Banjarmasin.

Bagaimana Pendapat Anda? Silakan tinggalkan pertanyaan/ komentar/pesan/kritik yang membangun di kolom Komentar.

Konsultasi /Terapi Agar Lebih Bahagia : 0821.4886.9567.  Pin BB : 29A83BD9